Kesuksesan adalah sebuah proses panjang dan berliku, yang di dalamnya mengandung antara lain semangat, kerja keras, dan optimisme. Modal itulah yang dimiliki Zaenal Abidin, warga Dusun Jurit Utara, Desa Jurit, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Pria lulusan madrasah aliyah itu kini menjadi juragan kambing, mengoordinasi 80 peternak serta mempekerjakan banyak anak muda pengangguran dan putus sekolah tingkat SLTP dan SLTA sebagai pengarat (penggembala). Ada sekitar 15 kandang kambing yang tersebar di beberapa dusun, yang diurus para pengarat putus sekolah itu. Setiap kandang berisi 30-40 kambing.
Keberhasilannya dalam menggugah kreativitas dan inovasi masyarakat, serta memberi lahan kerja bagi sesama generasi muda desanya itu, menempatkan Zaenal sebagai Juara I Pemuda Pelopor tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2010.
"Mudah-mudahan apa yang saya lakukan saat ini bermanfaat bagi generasi seusia saya, yang biasanyafce-dikit-sedikit menjual tanah dan ternak buat ongkos menjadi TKI (tenaga kerja Indonesia) ke Malaysia. Setelah saya pikir-pikir, asalkan mau kerja, jangankan sekadar makan, harta pun bisa kita cari di desa kita sendiri. Kita tidak perlu ke Malaysia jadi TKI," ucapnya.
Menurut Zaenal, seekor kambing yang dibeli Rp 500.000, setelah dipelihara sekitar enam bulan, laku dijual Rp 850.000-Rp 900.000. Berbeda dengan sapi, yang dibeli seharga Rp 6 juta per ekor, belum tentu laku dijual sebesar harga pembeliannya setelah dipelihara enam bulan.
Ternak kambing itu dipasarkan di Kota Mataram. Setiap hari, dia memasok 10-20 ekor. Permintaan paling banyak pada dua pekan sebelum Idul Adha. Selama dua pekan setidaknya 500 kambing disuplai ke Mataram, dan sekitar 750 ekor dikirim ke Lom-bok Tengah, Lombok Barat, dan Lombok Timur.
Untuk memenuhi permintaan menjelang Idul Adha nanti, sejauh ini Zaenal sudah menyiapkan 470 kambing dari para anggota kelompoknya. Omzet usaha kelompoknya itu diperkirakan mencapai Rp 400 juta-Rp 500 juta
Tak menyerah
Usaha pemeliharaan kambing itu berawal tahun 2004 setelah Zaenal diberhentikan dari pekerjaannya sebagai penjaga warung telepon (wartel) di desanya. Wartel itu bangkrut karena kalah bersaing setelah masuknya telepon genggam ke pedesaan.
Dia sempat mencari nafkah sebagai tukang ojek, dengan sepeda motor milik calon mertuanya. Namun, usaha ini pun kandas karena ojek bertambah banyak, sementara penumpang terbatas. Sepeda motor itu lalu dijual Rp 4.260.000.
Uang hasil penjualan itu rencananya dipakai untuk biaya administrasi dan transportasi Zaenal ke Malaysia untuk menjadi buruh migran. Namun, cerita dan pengalaman buruk tentang TKI mengurungkan niatnya. "Apalagi saya takut naik kapal laut maupun kapal terbang," ujar Zaenal.
Lalu, uang hasil penjualan sepeda motor itu dia gunakan imtuk membeli 26 ekor kambing. Dia bekerja keras menyabit rumput untuk pakan ternaknya Setelah 10 bulan dipelihara, Zaenal bisa mengumpulkan Rp 19.500.000 dari penjualan semua kambingnya.
Melihat keberhasilan itu, banyak warga sedesanya yang tertarik mengikuti jejak Zaenal. Pemasaran dan pembelian ternak kemudian dilakukan bersama secara berkelompok. Zaenal juga bertugas mencari para pembeli Sedemikian berkembangnya usaha ini, sampai-sampai Zaenal kewalahan bahkan terpaksa menolak warga yang ingin turut bermitra kerja.
Ia kemudian mengatur strategi. Zaenal merekrut pengarat dari kalangan pemuda putus sekolah maupun pengangguran lulusan SLTP dan SLTA. Dari 80 anggota kelompoknya yang sampai sekarang belum punya nama itu, 65 di antaranya pemuda berusia di bawah 30 tahun.
Struktur upah kerja dan pembagian keuntungan dijalankan secara sederhana. Zaenal memberi contoh, dalam satu periode pemeliharaan (sekitar empat bulan) terkumpul dana dari para anggota sebesar Rp 57 juta sebagai modal awal.
Jika semua ternak terjual Rp 100 juta, hasil penjualan total disisihkansebesar modal awal. Sisanya, Rp 43 juta, dipotong 20 persen untuk para pemegang modal dan selebihnya dibagikan untuk para pengarat. Dengan cara itu, menjelang Idul Fitri pun Zaenal bisa memberi "sekadar" tunjangan hari raya kepada para pengarat.
Model manajemen seperti ini dinilai pas oleh para anggota kelompok. Malah, para pengarat sekarang rata-rata sudah memiliki sepeda motor yang dibeli dari hasil upah kerja mereka.
"Kalau sebelum masa panen (penjualan), mereka membutuhkan uang atau beras, kami kasih pinjam dulu. Nanti setelah panen, upahnya dipotong sesuai jumlah pinjaman masing-masing," ungkapnya.
Disewakan
Dari hasil enam tahun berjualan kambing, Zaenal mampu membeli truk pengangkut pasir seharga Rp 240 juta dan mobil bak terbuka seharga Rp 48 juta. Truk itu dia sewakan untuk mengangkut pasir dan batu bata, sementara mobil bak terbuka dipakaiuntuk antar-jemput kambing ke konsumen dan pasar maupun membawa pengarat untuk mencari rumput
Sebelumnya, Zaenal, anak keempat dari lima bersaudara pasangan Amaq Sahman dan Inaq Sahman ini, sempat mendapat cibiran dari banyak orang atas usahanya itu. Namun, ia berhasil membuktikan bahwa ketekunan dari usaha "sederhana" itu tidaklah sia-sia Cibiran itu pun berubah menjadi rasa hormat Ayah tiga anak ini bahkan didaulat menjadi pemimpin aktivitas Gaung Puri Rinjani Jurit, yang beranggotakan 237 putra dan putri desa itu.
Mereka menjadi "tulang punggung" desa untuk menjalankan kegiatan gotong royong, berkesenian, sampai penyelenggaraan perayaan maupun hajatan warga desa
Zaenal yang berperawakan tegap dan berambut pendek itu ibarat suluh penerang. Dia telah memberi arah perubahan bagi masyarakat dan sesamanya meski baru dalam lingkup Desa Jurit
Rabu, 23 Februari 2011
Budidaya Ikan Lele Dumbo Dengan Kolam Terpal
Ikan Lele merupakan keluarga Catfish yang memiliki jenis yang sangat banyak, diantaranya Lele Dumbo, Lele Lokal, Lele Phyton, Lele Sangkuriang dan lain-lain. Pada tulisan terdahulu sudah dituliskan mengenai Budi Daya Ikan Guramih Pada Kolam Terpal, pada kesempatan ini akan dibahas BUDI DAYA IKAN LELE DUMBO pada Kolam terpal. Budi Daya Ikan Lele dumbo relatif lebih mudah dan sederhana jika dibandingkan dengan budi daya guramih. Pada dasarnya metode Budi Daya ini adalah solusi untuk beberapa kondisi antara lain lahan yang sempit, modal yang tidak terlalu besar dan solusi untuk daerah yang minim air. Lele Dumbo merupakan ikan yang memiliki beberapa keistimewaan dan banyak diminati orang.
Aneka masakan dari lele bisa diperoleh dengan mudah, rasa daging yang lezat dan gurih membuat bisnis budi daya lele menjadi peluang usaha yang cukup menjanjikan keuntungan. Selain itu Lele dumbo lebih mudah dipelihara dan cepat dalam pertumbuhannya. Dengan kondisi air yang “buruk” Lele dumbo bisa bertahan hidup dan berkembang dengan baik, dengan demikian solusi pemeliharaan lele dumbo dengan terpal menjadi alternatif yang perlu dicoba. Budi Daya Ikan Lele dumbo dengan Kolam terpal mendatangkan peluang usaha yang cukup menjanjikan dan tidak memerlukan modal usaha yang besar. Analisis budi daya Lele Dumbo dapa dilakukan dalam berbagai model untuk konsumsi dan pembibitan.
Model Budi Daya Lele Dumbo
Peluang usaha Budi daya lele dumbo dengan kolam terpal dapat dilakukan dalam beberapa bentuk antara lain, tujuan pembibitan dan tujuan konsumsi. Budi daya Ikan Lele Dumbo sebagai bibit merupakan upaya memenuhi kebutuhan bibit yang terus meningkat seiring dengan permintaan Ikan Lele Dumbo Konsumsi. Budi Daya Ikan Lele Dumbo Konsumsi merupakan upaya memelihara Ikan Lele Dumbo sampai ukuran dan bobot tertentu. Biasanya dari berat 1 ons per ekor ikan lele dumbo sampai 1 kg per ekor. Ukuran Lele Dumbo 1 Kg /ekor ke atas biasanya digunakan pada kolam pemancingan yang berisi Lele dumbo.
Budi Daya Lele Dumbo Untuk Pembibitan
Peluang Usaha Budi Daya Lele dumbo Untuk tujuan pembibitan bisa dilakukan antara lain:
- Pemijahan dan penetasan telur lele dumbo, setelah menetas bisa dijual kepada peternak lain untuk dibesarkan atau dipelihara lagi sampai besar. Karena bibit lele dumbo baru menetas sudah bisa dijual, sehingga merupakan peluang usaha bagi yang memilih menekuni bidang ini. Jika lahan yang tersedia sempit solusi ini bisa menjadi alternatif. Modal untuk usaha ini hanya tempat dan indukan lele dumbo. Bibit Lele dumbo baru menetas biasanya dihargai berdasarkan perkiraan jumlah anakan Lele Dumbo, yang ditentukan berdasarkan bobot induk dan jumlah induk Lele Dumbo.
- Penyediaan Bibit Ukuran 2-3 cm, dalam kurun waktu satu bulan setelah menetas bibit lele dumbo telah mencapai ukuran 2-3 cm dan siap untuk dijual ke pasaran. Pembesaran benih lele dari menetas hingga ukuran ini idealnya ditempatkan pada kolam lumpur atau sawah, sehingga memerlukan lahan yang relatif luas. Meski di kolam terpal tetap bisa dilakukan tetapi tidak bisa dalam jumlah yang besar, meski demikian peluang usaha tetap terbuka. Pembesaran Lele Dumbo pada bak atau kolam terpal pada ukuran ini memerlukan makanan tambahan berupa pelet buatan pabrik.
- Penyediaan Bibit ukuran 5-7 cm, pada ukuran 5-7 cm benih lele dumbo siap dijual sebagai bibit yang mendatangkan peluang usaha. Biasanya ukuran ini dipelihara oleh peternak sampai ukuran layak konsumsi.
Pemeliharaan Lele Dumbo Untuk Konsumsi
Lele dumbo untuk keperluan konsumsi biasanya dipelihara mulai dari ukuran 5-7 cm atau lebih besar, untuk hasil panen cepat bisa dilakukan dalam waktu 2 bulan dengan pemberian makanan yang ekstra dan optimal. Peluang usaha budi daya lele dumbo untuk konsumsi ini relatif lebih mudah karena ukuran lele yang besar lebih tahan terhadap penyakit, dan tingkat hidup lebih tinggi. Untuk mendapatkan ukuran lele dumbo yang lebih besar memerlukan waktu 3 sampai 4 bulan.
Persiapan Pembuatan Kolam Terpal
Persiapan untuk budi daya lele dumbo dengan kolam terpal meliputi persiapan lahan kolam , persiapan material terpal ,dan persiapan perangkat pendukung. Lahan yang perlu disediakan disesuaikan dengan keadaan dan jumlah lele yang akan dipelihara. Untuk Pembesaran sampai tingkat konsumsi bisa digunakan lahan dengan ukuran 2 x 1x 0.6 meter, yang bisa diisi dengan 100 ekor lele dumbo ukuran 5-7 cm. Model pembuatan kolam bisa dengan menggali tanah kemudian diberi terpal atau dengan membuat rangka dari kayu yang kemudian diberi terpal. Cara pertama lebih membuat terpal tahan lebih lama.
Pemeliharaan Lele Dumbo
Pertama kali kolam terpal diisi dengan air yang tidak terlalu dalam terlebh dahulu, untuk lele dumbo ukuran 5-7 cm bisa diisi air 40 cm terlebih dahulu, agar ikan tidak terlalu capek naik dan turun dasar kolam untuk mengambil oksigen, seiring dengan bertambahnya usia dan ukuran kedalaman air ditambah. Perlu disediakan pula rumpon atau semacam perlindungan untuk lele. Karena lele merupakan ikan yang senang bersembunyi di daerah yang tertutup.
Pemberian pakan dilakukan dengan pemberian pelet sehari dua kali, lebih bagus lagi lebih dari dua kali tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit. Jika di lingkungan tersedia pakan alami seperti Bekicot, kerang, keong emas, rayap dan lain-lain, bisa diberikan makanan alami tersebut. Makanan alami selain bisa menghemat pengeluaran juga memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga pertumbuhan lele dumbo lebih cepat. Selain itu ada beberapa teknologi yang bisa dipakai untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele dan ikan lainnya.
Meski Lele dumbo tahan terhadap kondisi air yang buruk ada baiknya perlu diganti air sekitar 10-30% setiap minggu, agar kolam tidak terlalu kotor dan berbau. Penyakit pada ikan lele mudah menyerang pada air yang kotor. Pada usia satu bulan atau jika diperlukan perlu dilakukan seleksi dan pemisahan lele yang memiliki ukuran yang berbeda. Biasanya lele mengalami pertumbuhan yang tidak sama, sehingga jika tidak dipisahkan lele dengan ukuran kecil akan kalah bersaing dalam berebut makanan. Selain itu pisahkan jika ada ikan yang terindikasi terserang penyakit agar tidak menular.
Meraup untung dari Ayam Kampung
Dibidang peternakan, misalnya, usaha ayam ras(ayam pedaging) langsung terkapar ketika krisis berlangsung. Maklum ayam jenis ini banyak menelan dollar, mulai dari bibit, bahan baku pakan, obat-obatan hinggaperalatan.
Lain cerita kalau yang diternakan ayam kampung atau ayam buras(bukan ras) yang 100 % asli Indonesia. Menurut data Ditjen Peternakan, tahun 1998 populasi ayam kampung mengalami peningkatan sekitar 1 % dibanding tahun sebelumnya, jauh berbeda dengan ayam ras yang anjlok sampai 70 %.
Produksi telur ayam ras (leghorn) petelur misalnya bisa mencapai 300 butir setahun. Sementara ayam kampung yang dipelihara secara khusus paling banter hanya 100 butir telur. Begitu juga dengan ayam ras pedaging (broiler). Tubuhnya cepat bongsor, dalam 30 hari bisa mencapai 1 kg. Sementara ayam kampung membutuhkan 3 bulan untuk mencapai bobot hidup yang sama . Hanya saja harga daging dan telur ayam kampung lebih tinggi, itu kelebihannya.
Keuntungannya jelas
Bila serius keuntungan usaha penetasan ayam kampung ternyata cukup menggiurkan. Saat ini harga sebutir ayam kampung Rp 800. Sementara harga seekor anak ayam yang baru menetas atau biasa disebut DOC (Day Old Chick), sekitar Rp 2000 perekor, berarti kalau ditetaskan untungnya lebih dari 100 % ? memang besar.
Mencari telur
Pada dasarnya tidak sulit asal mau telaten. Sebab, telur bisa diperoleh di kampung-kampung. Pada pemeliharaan trdisional, umumnya setiap induk melakukan perkawinan dengan ayam pejantan. Sehingga telur yang dihasilkan merupakan telur yang bertunas atau yang bisa di tetaskan. Bisa juga melalui penjual jamu gendong, dipasar-pasar lokal juga mudah ditemukan.
Mesin penetas
Mesin tetas bisa didapat dengan dua cara. Jika punya uang bisa membeli mesin tetas sendiri. Harganya antara Rp 700 ribu hingga Rp 5 juta, tergantung daya tampungnya. Untuk alat yang satu ini, banyak yang dijual disekitar Tangerang.
Kalau mau menyewa bisa dicari sekitar Rawa Belong, Jakarta Barat. Akan lebih untung kalau memiliki mesin penetas sendiri dengan kapasitas yang besar. Selain dipakai sendiri, juga bisa disewakan.
Pemasaran
Tak usah bingung memasarkan anak ayam. Banyak jalannya. Antara lain melalui Koperasi Peternak ayam buras Jakarta. Atau bisa langsung bekerja sama dengan peternak ayam buras. Kalau belum puas dengan hasil anak ayam, bisnis ini bisa dikembangkan sebagai bisnis terpadu. Artinya, selain anak ayam, juga beternak ayam pedaging (broiler) dan telur.
Pakan Di buat sendiri
Siapa yang tak ingin usahanya berkembang. Untuk itu, ada baiknya seorang peternak juga menguasai pembuatan pakan. Sejak krisis berlanjut, tidak sedikit pengusaha peternakan, baik ayam pedaging maupun petelur, yang gulung tikar. Penyebabnya ya, karena sebagian besar bahan bakunya mengandalkan impor. Sementara pakan dari bahan baku lokal yang sebenarnya dari sisi kualitas tidak kalah, masih jarang dilirik peternak.
Dari pada buang duit untuk membeli bahan pakan ternak ada baiknya mempelajari kiat membuat pakan sendiri seperti yang disajikan dibawah ini. (Tabel I & II).
Pola usaha ini sudah dujalani Ekok Wakradiharjo, peternak ayam kampung yang bermukim di Jagarkarsa, Jakarta Selatan. Dengan menggunakan pakan lokal ia mampu memetik penghasilan lumayan besar.
Dari 1000 ekor ternaknya, minimal setiap bulan mengantungi keuntungan Rp. 1,4 juta. Itu baru dari hasil penjualan ayam kampung pedaging. Jadi belum termasuk telur, ayam afkiran dan kotoran ayam yang belakangan ini jadi rebutan petani karena harga pupuk kimia sangat mahal.
AKS(Kiriman Bambang Suharno, Bekasi).
| No | komponen | penggu- naan% | harga /kg | harga (Rp) |
| 1. | Jagung | 53 | 1400 | 742 |
| 2. | Bungkil kedelai | 10 | 4250 | 425 |
| 3. | Pollar/ dedak padi | 22 | 500 | 110 |
| 4. | Tepung ikan | 12 | 4000 | 480 |
| 5. | Tepung tulang | 3 | 2250 | 67,5 |
| Total | 100 | 1824,5 | ||
Tabel II: Komposisi Starter 2 | ||||
| No | komponen | penggu- naan% | harga /kg | harga (Rp) |
| 1. | Jagung | 50 | 1400 | 700 |
| 2. | Bungkil kedelai | 10 | 2250 | 225 |
| 3. | Pollar/ dedak padi | 29 | 500 | 145 |
| 4. | Tepung ikan | 8 | 4000 | 320 |
| 5. | Tepung tulang | 3 | 2250 | 67,5 |
| Total | 100 | 1457,5 | ||
Selasa, 22 Februari 2011
Nulis karo nglamun, (mbuh bener, mbuh ora?)
Creat by :Swanto Elbarbazy
Para Sahabat Hatiku pun Tahu itu.
Semua aktivitas adalah pilihan. Hal lain yang mungkin kita pilih, seyogyanya kita berharap bahwa hal itu adalah yang terbaik, adakalanya hanya menurut pendapat sendiri, tapi apakah hal yang terbaik yang kita pilih adalah yang terbaik menurut Yang Maha Berkehendak?
Saya hanya tahu bahwa seseorang tak mungkin bisa menghentikan aktivitasnya dalam hidup ini, selain hanya berganti aktivitas diantara begitu banyak pilihan. Seperti seseorang yang akan memutuskan untuk berhenti menulis catatan misalnya. Barangkali ia lelah menulis catatan dalam bingkai imaginatif, ia mungkin akan beranjak "keluar" dari bingkai itu dan akan tetap "menulis" dengan pena pengabdian dan tinta peluh yang lebih jernih dan nyata. Layaknya seseorang yang mulai merangkai kembali kertas – kertas yang terserak, yang lama ia tak menyadari betapa jauh ia tinggalkan serakan serpihan kertas pertama dengan posisinya kini, betapapun akan sangat melelahkan dan membosankan perbuatan tersebut, tapi ia telah memilih.
Dalam benak saya adalah kehidupan di kota maupun di dusun kecil sama saja, tinggal tergantung pada sudut pandang dan cara kita menyikapinya. Ada "masyarakat" dusun dan pegunungan ditengah belantara kota Metropolitan, dan begitupun ada masyarakat "modern" dan bahkan "kapitalisme" di antara bukit, gunung, sawah, ladang, sungai dan surau-surau pedusunan nan lugu. Semuanya itu adalah pilihan.
Yang menarik adalah semua pilihan itu biasa kita anggap sebagai murni usaha dan daya kita sendiri, tanpa kita memikirkan bahwa hal yang kita pilih diantara banyak pilihan tersebut semuanya sudah dikondisikan dan diskenariokan untuk kita. Seseorang yang merasa terjebak dengan pilihannya, sehingga ia menarik dirinya sendiri kepada kemaksiyatan dan dosa, misalnya, bukankah keadaan seperti itu justru, kalau ia menyadarinya sangat dekat sekali dengan ampunan-Nya. Bila kita mau. Hal tersebut adalah skenario-Nya. Semua itu juga pilihan, dan para sahabat hatiku pasti tahu itu, ( wallohu a'lam bimurodlihi)
Senin, 21 Februari 2011
Babad Brebes
Sejarah Brebes
Ada beberapa pendapat asal muasal nama Brebes. Yang pertama mencoba menghubungkannya dengan keadaan alamiah daerah Brebes yang pada awal mulanya konon mempunyai banyak air dan sering tergenang air, bahkan ada kemungkinan masih berupa rawa-rawa. Mengingat banyak air yang merembes, munculah kemudian nama Brebes, yang selanjutnya mengalami "verbastering" (perubahan) menjadi Brebes. Pendapat kedua mencoba menalikannya dengan peri masuknya agama Islam pada awal mulanya ke Brebes, yang sekalipun dihalang-halangi namun ternyata masih juga merembes, yang dalam bahasa daerah disebut disebut "berbes". Oleh karenanya muncullah kemudian nama Berbes, yang selanjutnya berubah menjadi Brebes.
"Bara" berarti hamparan tanah datar yang luas, sedang "basah" berarti banyak mengandung air. Kedua-duanya cocok dengan keadaan daerah Brebes, yang kecuali merupakan air. Kedua-duanya cocok dengan keadaan daerah Brebes yang kacuali merupakan dataran luas, juga mengandung banyak air, karena perkataan "bara" diucapkan "bere", sedang "basah" diucapkan "beseh", pada akhirnya lahirlah perkataan "Bere basah", yang untuk mudahnya kemudian telah berubah menjadi Brebes.
Ada pula terdapat ceritera yang berkaitan denga kata yang akhirnya menjadi kota Brebes yaitu:
Diantaranya Salem-Bantarkawung terdapat gunung bernama "Baribis" dari gunung Baribis tersebut mengalir sungai "Baribis" yang mengalir melalui dataran bagian utara bermuara di laut Jawa dan setelah bergabung dengan aliran sungai-sungai yang alin merupakan sungai besar dipantai utara Jawa. Sungai Baribis ini, pada jaman dulu dianggap sebagai sungai yang bertuah = angker (Jawa) dan konon sungai tersebut juga banyak buayanya. Orang-orang tua pada saat itu banyak yang melarang anak cucunya untuk datang, menyeberangi, mandi dan sebagainya disungai tersebut. Terlebih dalam saat berperang orang tua selalu memberikan peringatan-peringatan yang melarang melangkahi/menyeberangi sungai tersebut. Untuk meyakinkan hal ini, mka terungkaplah sebuah legenda tentang perang Arya Bangah dengan Ciyung Wanara. Akibat menyeberangi sungai Baribis tersebut, Arya Bangah mengalami kekalahan.
Dari kepercayaan akan hal tersebut maka sungai Baribis itu dijadikan peringatan = pepenget = pepeling = pepali = larangan agar jangan sampai pada saat berperang melangkahi = menyeberangi sungai tersebut.
Karena sungai Baribis menjadi larangan dari kaum tua, maka sungai Baribis dikenal sebagai larangan, atau sungai pepali atau pemali, yang berarti pepalan atau larangan.
Jadi dahulu menurut tutur beberapa orang tua di daerah Brebes selatan sungai Pemali itu semula bernama sungai Baribis yang bermata air dari gunung Baribis. Kemungkinan itu sebabnya, daerah ini disebut daerah Baribis, yaitu daerah aliran sungai Baribis dan dari kata Baribis ini menjadi Brebes.
Kalau kita perhatikan dengan seksama, nama-nama tempat si pulau Jawa ternyata merupakancermin dari keadaan alam disekitar masyarakat yang mendiami tempat-tempat itu dan cara berpikir mereka. Nama-nama itu bisa kita bedakan dalam dua golongan besar. Yang pertama, yang secara spontan telah lahir dari masyarakat di kota-kota itu sendiri, sedang yang kedua, yang dengan sengaja telah diberikan atau diperintahkan oleh suatu penguasa untuk dipakai, misalnya nama Surakarta Adiningrat, yang mula-mula telah dipergunakan oleh Sultan Pakubuwana II pada tahun 1745 untuk menyebut nama-nama tempat yang: 1. Berasal dari nama-nama tanaman, 2. Berasal dari nama-nama binatang, 3. Berasal dari nama-nama benda tambang, 4. Berasal dari nama-nama orang, 5. Mengingatkan kita pada suatu keistimewaan topografis.
Nama kota Brebes termasuk dalam katagori yang kelima. Dalam bahasa Jawa perkataan Brebes atau Mrebes berarti "tansah metu banyune" artinya "selalu keluar airnya" dan nama ini telah lahir, mengingat pada awal mula sejarahnya, keadaan lahan di kawasan kota Brebes sekarang ini memang selalu keluar airnya. Adapun kota-kota lain yang juga memiliki nama-nama semacam itu, artinya yang telah lahir berdasarkan keadaan tanahnya pada awal mula sejarahnya, bisa kita sebutkan antara lain nama-nama kota Blora di daerah Jawa Tengah dan Jember di Jawa Timur. Nama Blora telah muncul oleh keadaan tanah di kawasan kota itu pada mula sejarahnya memang masih berupa rawa-rawa, sesuai dengan arti perkataan Blora atau Balora, yang merupakan sebuah perkataan bahasa Jawa kuna yang berarti rawa, sedang nama kota Jember telah lahir, mengingat pada awal mula sejarahnya keadaan tanah di kawasan kota memang benar-benar jember atau njember, sebuah perkataan dalam bahasa Jawa berarti reged ajenes, artinya kotor dan mengandung air.
Dari sumber yang dapat diketemukan, pada tahun 1640 / 1641, nama Brebes itu sudah mulai tercantum di dalam penulisan / laporan / daftar harian yang dibuat oleh VOC. Makin kesini makin banyak uraiannya, meskipun hanya dalam hal sebagai tujuan atau persinggahan pengiriman barang-barang penting dan bahan pokok, misalnya alat-alat untuk kompeni (VOC), bahan pakaian, bahan makanan dan sebagainya.
Nama Brebes itu sendiri pernah ditulis: Barbas, Barbos atau Brebes. Dari nama dan bagaimanapun juga asal muasalnya atau apapun juga makna nama Brebes itu, kiranya bukanlah masalah bagi penduduk Brebes masa kini. Yang penting adalah mengambil hikmah dari dalamnya. Suatu kenyataan Wilayah Kabupaten brebes dianalisa dari segi lahan/tanah, curah hujan serta iklimnya, mempunyai prospek/masa depan yang cerah. Segala faktor penghambatannya Insya Allah akan dapat diatasi oleh generasi penerusnya.
NASKAH PUTUSAN SEMINAR
TANGGAL 1 NOPEMBER 1984 PERUMUSAN
TANGGAL 1 NOPEMBER 1984 PERUMUSAN
Seminar penyusunan Sejarah dan Hari jadi Kabupaten Brebes pada hari Kamis tanggal 1 Nopember 1984 di Gedung DPRD Kabupaten Brebes, yang dihadiri oleh :
- Muspida,
- Tokoh Masyarakat,
- Cendekiawan,
- Undangan dari daerah dan Luar Daerah,
- Konsultan,
- Panitia Penyusunan Sejarah dan hari jadi Kabupaten Brebes,
Setelah mendapat :
- Sambutan dan pengarahn Bupati Kepala Daerah dan Ketua DPRD Kabupaten Brebes,
- Penjelasan Kertas-kerja Panitia Penyusun oleh penyaji materi (Sdr. D. Atmowinoto),
- Tanggapan, usul-saran dan pendapat para peserta, (materi terlampir) ;
MEMUTUSKAN
- Menerima materi Panitia Penyusun Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Brebes, untuk ditambah sempurnakan dengan materi masukan dari para hadirin peserta (materi masukan terlampir), yang secara selektif disusun lengkap-sempurnakan oleh Panitia Penyusun Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Brebes.
- Menetapkan Hari Jadi Kabupaten Brebes : Hari Senin Kliwon tanggal 18 Januari 1678.
- Naskah penyempurnaan segera disebar-luaskan untuk mendapat tanggapan dan masukkan, yang kemudian secara final disusun kembali menjadi materi-final oleh Panitia Penyusun Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Brebes.
- Buku Naskah - final Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Brebes, disampaikan kepada Bupati Kepala Daerah Tingkat II Brebes untuk dimusyawarahkan DPRD Kabupaten Brebes menjadi produk politik Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes, berupa :
a. Peraturan Daerah tentang hari Jadi Kabupaten Brebes.b. Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah yang dikuatkan oleh DPRD tentang : Sejarah Kabupaten Brebes.Demikian rumusan kami buat, untuk dimusyawarahkan dan mendapat kata mufakat dari sidang Paripurna Seminar.Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu melindungi kita semua dalam rangka mengamalkan Pancasila dan UUD 1945.Brebes, 1 Nopember 1984.1. Soewardi Wirjaatmadja (Ketua/anggota)
2. Nuridin Mawardi (Sekretaris/Pelapor/Anggota)
3. Drs. Soetadi (Anggota)
4. Drs. H. Ahmad Harisman, SH (Anggota)
5. Drs. Soetadji (Anggota)
6. Amen Budiman (Anggota)
Nama - nama Bupati Brebes
Ditulis oleh Administrator Jumat, 12 Oktober 2007
- Tumenggung Arya Suralaya 1678 - 1683
- Tumenggung Pusponegoro I
- Tumenggung Pusponegoro II 1683 - 1809
- Tumenggung Pusponegoro III
- K.A.A. Singasari Panatayuda I 1809 - 1836
- K.A.A. Singasari Panatayuda II 1836 - 1856
- K.A.A. Singasari Panatayuda III
- R.T. Cakra Atmaja 1876 - 1880
- RM. AA. Cakranegara I 1880 - 1885
- RM. T. Sumitra (Cakranegara II) 1885 -
- RM. Martana 1907 - 1929
- R. Sajikun 1929 (8 bulan)
- KRTM. Ariya Purnama Hadiningrat 1920 - 1929
- RAA. Sutirta Pringga Haditirta 1936 - 1942
- R. Sunarya 1942 - 1945
- Sarimin Reksadiharja 1946
- K. A. Syatori 1946 - 1947
- R. Awal 1947 - 1947
- Agus Miftah 1947 - 1948
- R. Sumarna 1948 - 1950
- Mas Slamet 1950 - 1956
- R. Mardjaban 1956 - 1966
- R.H. Sartono Gondosoewandito, SH 1967 - 1979
- H. Syafrul Supardi 1979 - 1989
- H. Hardono 1989 - 1994
- H. Syamsudin Sagiman 1994 - 1999
- H. Moh. Tadjudin Nuraly 1999 - 2001
- PLTH Drs Haji Tri Harjono 2001-2002
Tradisi burok di Desa Rungkang
BOUROQ
Kemunculan seni Burokan berdasarkan tuturan para senimannya (terutama di desa Pakusamben Kecamatan Babakan Kabupaten Cirebon) berawal dari sekitar tahun 1934 seorang penduduk desa Kalimaro Kecamatan Babakan bernama Kalil membuat sebuah kreasi baru seni Badawang (boneka-boneka berukuran besar) yaitu berupa Kuda Terbang Buroq, konon ia diilhami oleh cerita rakyat yang hidup di kalangan masyarakat Islam tentang perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhamad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dengan menunggang hewan kuda bersayap yang disebut Buroq. Di samping itu dalam beberapa kesaksian orang-orang di Cirebon, selain dalam cerita rakyat, masyarakat Cirebon dikenalkan pula sosok Buroq ini dalam lukisan-lukisan kaca yang pada waktu itu cukup popular dan dimiliki oleh beberapa anggota masyarakat di Cirebon. Lukisan kaca tersebut berupa Kuda sembrani (bersayap) dengan wajah putri cantik berwajah putih bercahaya. Pendek kata orang Cirebon tak merasa asing terhadap figur Buroq ini. Maka Kalil melalui kreativitasnya melahirkan sebuah Badawang baru yang diberinama Buroq, sementara keseniannya diberi nama seni genjring Buroq. Di dalam perkembangannya dari Kalil sampai generasi keempat seni Genjring Buroq semakin digemari masyarakat, bahkan tersebar ke pelbagai daerah di luar Cirebon, seperti Losari, Brebes, Banjarharja, Karang Suwung, Ciledug, Kuningan, dan Indramayu. Dewasa ini Burokan yang menonjol adalah Genjring Burok Gita Remaja dari desa Pakusamben yang dipimpin Mustofa (bukan keturunan Kalil) sejak 1969 sampai sekarang.
Pertunjukan Burokan
Pertunjukan Burokan biasanya dipakai dalam beberapa perayaan, seperti Khataman, Sunatan, perkawinan, Marhabaan dll. Biasanya dilakukan mulai pagi hari berkeliling kampung di sekitar lokasi perayaan tersebut. Adapun boneka-boneka Badawang di luar Buroq, terdapat pula boneka Gajah, Macan, dll. Di mana sebelumnya disediakan terlebih dahulu sesajen lengkap sebagai persyaratan di awal pertunjukan. Kemudian ketua rombongan memeriksa semua perlengkapan pertunjukan sambil membaca doa. Pertunjukan dimulai dengan Tetalu lalu bergerak perlahan dengan lantunan lagu Asroqol (berupa salawat Nabi dan Barzanji). Rombongan pertunjukan masih berjalan ditempat, setelah banyak masyarakat yang datang rombongan mulai bergerak dan semakin lama semakin meriah karena masyarakat boleh turut serta menari berbaur dengan para pelaku, sementara kalau dalam acara khitanan, anak sunat dinaikan ke atas Burok dengan pakaian sunat lengkap dan nampak dimanjakan. Sementara anak-anak desa yang ingin naik boneka-boneka Gajah, Macan, Kuda, Kera, dll. Dipungut uang antara Rp. 500-1000,-. Pada saat arak-arakan, lagu-lagupun berubah tidak lagi lagu Asroqol tetapi lagu-lagu tarling, dangdutan, Jaipongan, seperti Limang Taun, Sego Jamblang, Jam Siji Bengi, Sandal Barepan, Garet Bumi, Sepayung Loroan, Kacang Asin, Tilil Kombinasi, bahkan lagu-lagu yang sedang popular, misalnya Pemuda Idaman, Melati, Mimpi Buruk, Goyang Dombret dll. Sepanjang pertunjukan Burokan, tetap boneka Buroq lebih menarik, rupanya yang cantik, dan gerakan-gerakan kaki para pelaku yang bergerak mengikuti irama musik, menjadi disukai masyarakat.
Musik pengiring Burokan
Musik pengiring Burokan biasanya terdiri dari 3 buah dogdog (besar, sedang, kecil), 4 genjring, 1 simbal, organ, gitar, gitar melodi, kromong, suling, kecrek. Di dalam pertunjukan berfungsi sebagai pengiring tarian juga pengiring nyanyian. Nyanyian dibawakan oleh penyanyi pria dan wanita, kadangkala bergiliran tergantung dari karakter lagu yang dibawakan. Perangkat property atau perlengkapan pertunjukan yang terdiri dari: Sepasang boneka buroq yang biasanya dimainkan oleh empat orang (dua di depan dan dua di belakang), beberapa boneka (badawang) berbentuk binatang yaitu Gajah, Kera, Macan, Kuda, serta sering disemarakan oleh sepasang Badut dengan kostum yang lucu.
Makna pertunjukan Burokan
Makna yang tersembunyi dibalik bentuk pertunjukan Burokan, antara lain: Makna syukuran bagi siapapun yang menanggap Burokan, terutama dianggap sebagai seni pertunjukan rakyat yang Islami; Makna sinkretis bagi yang melihatnya dari tradisi Badawang (boneka-boneka yang ada muncul dari cara berfikir mitis totemistik yang berasal dari hubungan arkaistik sebelum Islam menjadi agama dominan di Cirebon); Makna akulturasi bagi benda yang bernama Buroq (sebagai pinjaman dari daerah Timur Tengah terkait dengan kisah Isra Mi’raj Nabi Muhamad SAW yang dipercayai sebagian masyarakat Cirebon sebagai dongeng dari tempat-tempat pengajian yang diabadikan juga dalam lukisan-lukisan kaca); Makna universal bagi sosok hewan seperti Buroq, yang sebenarnya dapat ditemukan di dalam mitos-mitos bangsa tertentu, misalnya Yunani, terdapat pula mahluk seperti Buroq, yakni Centaur (mahkluk berwujud kuda bertubuh dari dada sampai kepala adalah manusia). Di mana di dalam dunia perbintangan dikenal sebagai rasi Sagitarius. Demikian pula bagi bangsa Mesir, seperti kita kenal pada Sphinx.
Kemunculan seni Burokan berdasarkan tuturan para senimannya (terutama di desa Pakusamben Kecamatan Babakan Kabupaten Cirebon) berawal dari sekitar tahun 1934 seorang penduduk desa Kalimaro Kecamatan Babakan bernama Kalil membuat sebuah kreasi baru seni Badawang (boneka-boneka berukuran besar) yaitu berupa Kuda Terbang Buroq, konon ia diilhami oleh cerita rakyat yang hidup di kalangan masyarakat Islam tentang perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhamad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dengan menunggang hewan kuda bersayap yang disebut Buroq. Di samping itu dalam beberapa kesaksian orang-orang di Cirebon, selain dalam cerita rakyat, masyarakat Cirebon dikenalkan pula sosok Buroq ini dalam lukisan-lukisan kaca yang pada waktu itu cukup popular dan dimiliki oleh beberapa anggota masyarakat di Cirebon. Lukisan kaca tersebut berupa Kuda sembrani (bersayap) dengan wajah putri cantik berwajah putih bercahaya. Pendek kata orang Cirebon tak merasa asing terhadap figur Buroq ini. Maka Kalil melalui kreativitasnya melahirkan sebuah Badawang baru yang diberinama Buroq, sementara keseniannya diberi nama seni genjring Buroq. Di dalam perkembangannya dari Kalil sampai generasi keempat seni Genjring Buroq semakin digemari masyarakat, bahkan tersebar ke pelbagai daerah di luar Cirebon, seperti Losari, Brebes, Banjarharja, Karang Suwung, Ciledug, Kuningan, dan Indramayu. Dewasa ini Burokan yang menonjol adalah Genjring Burok Gita Remaja dari desa Pakusamben yang dipimpin Mustofa (bukan keturunan Kalil) sejak 1969 sampai sekarang.
Pertunjukan Burokan
Pertunjukan Burokan biasanya dipakai dalam beberapa perayaan, seperti Khataman, Sunatan, perkawinan, Marhabaan dll. Biasanya dilakukan mulai pagi hari berkeliling kampung di sekitar lokasi perayaan tersebut. Adapun boneka-boneka Badawang di luar Buroq, terdapat pula boneka Gajah, Macan, dll. Di mana sebelumnya disediakan terlebih dahulu sesajen lengkap sebagai persyaratan di awal pertunjukan. Kemudian ketua rombongan memeriksa semua perlengkapan pertunjukan sambil membaca doa. Pertunjukan dimulai dengan Tetalu lalu bergerak perlahan dengan lantunan lagu Asroqol (berupa salawat Nabi dan Barzanji). Rombongan pertunjukan masih berjalan ditempat, setelah banyak masyarakat yang datang rombongan mulai bergerak dan semakin lama semakin meriah karena masyarakat boleh turut serta menari berbaur dengan para pelaku, sementara kalau dalam acara khitanan, anak sunat dinaikan ke atas Burok dengan pakaian sunat lengkap dan nampak dimanjakan. Sementara anak-anak desa yang ingin naik boneka-boneka Gajah, Macan, Kuda, Kera, dll. Dipungut uang antara Rp. 500-1000,-. Pada saat arak-arakan, lagu-lagupun berubah tidak lagi lagu Asroqol tetapi lagu-lagu tarling, dangdutan, Jaipongan, seperti Limang Taun, Sego Jamblang, Jam Siji Bengi, Sandal Barepan, Garet Bumi, Sepayung Loroan, Kacang Asin, Tilil Kombinasi, bahkan lagu-lagu yang sedang popular, misalnya Pemuda Idaman, Melati, Mimpi Buruk, Goyang Dombret dll. Sepanjang pertunjukan Burokan, tetap boneka Buroq lebih menarik, rupanya yang cantik, dan gerakan-gerakan kaki para pelaku yang bergerak mengikuti irama musik, menjadi disukai masyarakat.
Musik pengiring Burokan
Musik pengiring Burokan biasanya terdiri dari 3 buah dogdog (besar, sedang, kecil), 4 genjring, 1 simbal, organ, gitar, gitar melodi, kromong, suling, kecrek. Di dalam pertunjukan berfungsi sebagai pengiring tarian juga pengiring nyanyian. Nyanyian dibawakan oleh penyanyi pria dan wanita, kadangkala bergiliran tergantung dari karakter lagu yang dibawakan. Perangkat property atau perlengkapan pertunjukan yang terdiri dari: Sepasang boneka buroq yang biasanya dimainkan oleh empat orang (dua di depan dan dua di belakang), beberapa boneka (badawang) berbentuk binatang yaitu Gajah, Kera, Macan, Kuda, serta sering disemarakan oleh sepasang Badut dengan kostum yang lucu.
Makna pertunjukan Burokan
Makna yang tersembunyi dibalik bentuk pertunjukan Burokan, antara lain: Makna syukuran bagi siapapun yang menanggap Burokan, terutama dianggap sebagai seni pertunjukan rakyat yang Islami; Makna sinkretis bagi yang melihatnya dari tradisi Badawang (boneka-boneka yang ada muncul dari cara berfikir mitis totemistik yang berasal dari hubungan arkaistik sebelum Islam menjadi agama dominan di Cirebon); Makna akulturasi bagi benda yang bernama Buroq (sebagai pinjaman dari daerah Timur Tengah terkait dengan kisah Isra Mi’raj Nabi Muhamad SAW yang dipercayai sebagian masyarakat Cirebon sebagai dongeng dari tempat-tempat pengajian yang diabadikan juga dalam lukisan-lukisan kaca); Makna universal bagi sosok hewan seperti Buroq, yang sebenarnya dapat ditemukan di dalam mitos-mitos bangsa tertentu, misalnya Yunani, terdapat pula mahluk seperti Buroq, yakni Centaur (mahkluk berwujud kuda bertubuh dari dada sampai kepala adalah manusia). Di mana di dalam dunia perbintangan dikenal sebagai rasi Sagitarius. Demikian pula bagi bangsa Mesir, seperti kita kenal pada Sphinx.
Langganan:
Postingan (Atom)






